+62-812-1417-0258
Quality Trilogy Juran dalam pengendalian kualitas

Quality Trilogy Juran dalam pengendalian kualitas

  • Category: Quality
  • Date 28-01-2019

Selepas perang dunia ke 2, Joseph M. Juran seorang Engineer dan konsultan dari amerika memperkenalkan konsep quality trilogy yang terkenal dengan sebutan Juran's Quality Trilogy yaitu:

1.      Quality Planning

2.      Quality Control

3.      Quality Improvement


Quality Planning berfokus pada perencanaan pembuatan produk yang di dasarkan pada perencanaan terhadap aspek kualitas yang lengkap dan mampu meminimalisir isu/problem sejak awal (sedikit masalah saat produksi secara masal). Umumnya quality planning di mulai sejak fase design atau development dari suatu product.

Quality Planning berfokus pada perencanaan pembuatan produk yang di dasarkan pada perencanaan terhadap aspek kualitas yang lengkap dan mampu meminimalisir isu/problem sejak awal

Quality Control fokus pada bagaimana fungsi control terhadap proses produksi, input dan outputnya berfungsi maksimal, fungsi control ini tentu saja di butuhkan untuk memastikan bahwa produk yang terkirim ke pelanggan adalah product tanpa cacat. Statistic process control banyak digunakan dan QC inspector dan final inspection adalah hal yang hampir pasti ada di setiap process produksi.

Quality Control fokus pada bagaimana fungsi control terhadap proses produksi, input dan outputnya berfungsi maksimal

Quality Improvement adalah fungsi quality terakhir apabila kegagalan process atau produk cacat masih di temukan baik itu masih di internal proses ataupun sudah terkirim ke pelanggan. Fungsi ini dapat berdiri sendiri sebagai fungsi quality improvement, quality assurance ataupun yang lebih umum seperti kaizen atau continuous improvement department yang di temukan di beebrapa tempat dengan PDCA atau Six Sigma sebagai tools utamanya.

Quality Improvement adalah fungsi quality terakhir apabila kegagalan process atau produk cacat masih di temukan baik itu masih di internal proses ataupun sudah terkirim ke pelanggan

Dalam trilogy tersebut, Juran menekankan bahwa semakin bagus implementasi fungsi quality dari sejak awal pengembangan produk adalah yang paling efektif & relative paling murah, resiko terhadap kepuasan pelanggan yang kecil dan mempermudah proses produksi secara keseluruhan. Tetapi fungsi ini sudah sangat jarang sempurna sejak awal, hal ini di picu oleh waktu pengembangan produk yang sering kali di percepat dan “kejar tayang”, hal ini sering membuat tekanan terhadap tim dan tentu saja mengurangi aspek quality dalam process nya. Selain itu, fungsi ini tidak optimal juga dikarenakan kurang nya tools yang cukup memadai seperti FMEA atau DFSS (Design for six sigma) atau penggunaan DOE (Design of Experiement) yang masih minim.


Dengan berkurangnya fungsi quality planning, maka fungsi quality control akan bekerja lebih keras dan sering kali membutuhkan biaya extra besar akibat di butuhkannya banyak inspector, sample yang lebih banyak bahkan 100% inspection atau pun inspeksi berlapis bahkan kadang-kadang di butuhkan inpseksi dari luar (laboratory atau 3rd party). Biasanya hal ini di perlukan sebagai akibat menurunnya kapabilitas proses (Cpk) atau akibat adanya complain dari pelanggan. Di banyak perusahaan, biaya quality control umumnya paling besar dari keseluruhan biaya pengendalian kualitas.

sering kali membutuhkan biaya extra besar akibat di butuhkannya banyak inspector, sample yang lebih banyak bahkan 100% inspection atau pun inspeksi berlapis yang kadang-kadang membutuhkan inpseksi dari luar (laboratory atau 3rd party) yang biayanya jauh lebih mahal

Sementara Quality Improvement adalah fungsi terakhir yang seringkali di kesampingkan, umumnya fungsi ini hanya sebatas ada di dalam system dan sering kali hanya menyelesaikan masalah di permukaan sehingga permasalahan kualitas tidak terselesaikan secara menyeluruh dan berualang di kemudian hari.


Umumnya para pimpinan organisasi masih memandang sebelah mata terhadap kehandalan fungsi quality improvement, namun seiring sulitnya menerapkan quality planning yang baik, maka fungsi terakhir ini dirasakan menjadi “Obat penyembuh” yang lebih mudah di dapat, walaupun terkadang biayanya jauh lebih mahal karena sudah memperhitungkan total Cost of poor quality seperti biaya claim atau kerugian akibat kehilangan kepercayaan dari pelanggan. Tidaklah mengherankan akhir-akhir ini perusahaan berlomba melakukan program improvement, baik khusus dengan nama Quality Improvement atau Process Improvement ataupun yang lebih general dengan nama Continuous Improvement, Operational Excellence dengan Six Sigma menjadi salah satu tools wajib yang harus di miliki oleh individu didalam tim tersebut.


Secara personal, penulis melihat trilogy Juran masih sangat relevan di era industry saat ini, terlebih industry 4.0 dengan digitalisasi process tentu saja memerlukan penerapan quality planning yang menyeluruh, fungsi control melalui statistic process control dan senantiasa selalu melakukan process improvement agar stabil dan menghasilkan kualitas terbaik.

Penulis menyarankan agar trilogy tersebut di terapkan dengan menyeluruh dan investasi terhadap kehandalan dan kemampuan manusia melalui education dan training program yang tepat akan mampu membantu dalam menyempurnakan konsep trilogy dari Juran.


Semoga membantu…..


About author: Adi Permana berpengalaman sebagai Six Sigma Master Black Belt, Quality leader dan founder LSS GURU Consulting. Memiliki passion di bidang process improvement dan quality management.

Share This

Comments